Minggu, 03 Februari 2013

CONTOH CERPEN "Sampai Garis Akhir"

di 23.10


ini cerpen sebenarnya dulu buat tugas, sekarang mau nge-post aja, gitu. dan ini aufa yang bikin ok? bukan copas dari mana mana. murni ide sendiri.

ini dia :

Selasa siang, seperti biasanya, ada jadwal pelajaran Oalahraga diluar jam mata pelajaran pagi. Panas. Aku dapat membayangkan bagaimana terik panas matahari menyengat kulit-kulit mereka yang sedang berlari demi nilai. Lelah, pasti. Sebentar lagi aku juga akan melakukan hal yang sama, berlari dikejar waktu demi nilai. Aku menghela nafas.

            Kulirik jam yang melekat di tanganku, 14.30. kulangkahkan kakiku menuju gerombolalan teman-teman sekelasku. Menyapa mereka membuatku merasa sedikit tenang.

            udah lama ? “ aku memulai percakapan.

            “ nggak juga, sih.., belum ngambil absen lagi, kan ? ambillah dulu “

            “ eeh..., orang baru datang, juga, udah diusir pula .. “ aku berpura-pura memasang tampang cemberut. 

Tidak lama pun kami tertawa bersama-sama. Tetapi aku belum menemukan teman terdekatku, aku berusaha mencarinya. Siapa tau ternyata dia juga belum mengambil absen, jadi kami bisa mengambil absen bersama, dan aku mendapatkannya sedang duduk di atas pentas. Aku melangkahkan kakiku menuju pentas tersebut. Berusaha menejutkannya.

“ Lala..!!! “ gagal. Dia sudah menoleh terlebih dahulu.

“ eh, telat, hehehe .. “ dia terkikik.

“ ck, eh, la udah ngambil absen ? “ hampir saja aku lupa tujuanku mencarinya tadi. Tetapi ternyata dia sudah mengambil absen.

“udah, aufa?”

“belum lagi, ni mau ngambil absen, skipping juga udah?”

“udah juga, pergilah ambil absen dulu”

Aku berjalan menuju guru olahraga dan menyebutkan namaku. Setelah itu aku mengambil skipping yang kubawa dan perlahan melompat tanpa diperintah, karena ini merupakan kegiatan yang memang harus dilakukan sebelum mengambil nilai lari. 1, 2, 3, ... . walau terhenti beberapa kali, akhirnya aku menyelesaikannya dan menyimpannya lagi. 300 lompatan. Dan akupun berjalan menuju Lala lagi.

Lala, .. “ aku menyapanya.

iya, kenapa? Udah  selesai skipping?.. “

“ udah, ni baru selesai “ jawabku singkat.

“oh..., fa, la remedi aaahh, disuruh buat kliping.. “ tampak bagiku raut sedih dari mukanya.

“ fa iya juga mungkin la.., “ aku teringat kalau aku juga remedi karena minggu kemarin aku tak bisa menyelesaikan 4 putaran dalam waktu paling lama 12 menit, sama dengan Lala.

“ ndag, nilainya tu diambil berdasarkan minggu kemaren sama yang sekarang, kalau sekarang kita gak remedi, berarti belum tentu akan remedi, nanti lari sekali lagi minggu depannya, kalau gak remedi, berarti tuntas, kalau remedi lagi, baru remedi buat kliping. Yola udah jelas aja remedi terus.. “ aku terhenyak mendengar kalimat yang bari saja keluar dar mulutnya.

“ apalah lala ni, sih? Belum tentu juga la remedi lagi, siapa tau nanti kamu gak reme-... “

bapak yang bilang sama la tadi, kata bapak la kan pasti remedi, jadi disuruh bapak aja buat kliping dari sekarang, minggu depan dikumpul.” rasanya jantungku baru saja berhenti berdetak mendengar pengakuannya.

Aku melirik dirinya, dia menatap lurus kedepan, raut wajahnya terlihat lebih sedih dan putus asa. Aku tahu badannya memang besar untuk seumuran kami, tapi aku sedih sekaligus kecewa mengetahui seorang guru berkata begitu. Sama saja dengan seorang pemimpin perang menyuruh mundur pasukannya sebelum pertempuran berlangsung. Aku membayangkan diriku kalu jadi Lala, mungkin aku sudah menangis mendengar perkataan guru kami itu.

Tik..!

1 tetes airmata mata sebagai wujud rasa sedih dan kecewa ku menetes. Aku cepat cepat menghapusnya, tak ingin Lala melihatku. Mencoba mengalihkan pandanganku. Aku mencoba menghentikannya agar tak ada tetes airmata ke-2 ataupun ke-3 , aku tak mau Lala merasa terkasihani, karena menurutku dia akan semakin terbebani. Aku menggigit bibir bawahku sekeras mungkin, hal yang biasa aku lakukan jika gugup atau menangis. Aku tahu Lala adalah anak yang kuat. Aku harap dia tidak terlalu memikirkan ini.

Aku tersadar dari lamunanku. aku mendengar bapak menyebut nama siswa satui persatu yang akan ikut lari trip 1, dan namaku akhirnya disebutkan, juga Lala.

“ yang jelas sekarang, kita berusaha aja dulu!..” aku menunggingkan senyum di bibirku dan mengangkat kedua tanganku dan mengepalnya. berharap ini dapat manambah semangatnya.

fighting!” aku tersenyum sebisaku. Berharap dia sedikit termotivasi.

Dia membalas senyumanku dengan senyuman getir. Lala, berjuanglah, aku tau kamu kuat, kamu bisa.

Aku menarik nafas panjang sebelum akhirnya peluit ditiup. Aku mulai menggerakkan kakiku untuk mulai berlari, dengan kecepatan yang konstan.

1 putaran. Aku baru saja melalui putaran pertamaku tanpa berhenti, aku tak mau berhenti dulu, karena jika sudah 1 kali berhenti aku akan terus berhenti untuk kedua, ketiga dan selanjutnya, ada salah satu senior yang mengatakan itu padaku.

2 putaran, aku sudah beberapa kali berhenti, berjalan, dan berlari lagi. Saat aku baru saja memulai putaran ku yang ke 4,  sudah ada teman-temanku yang mencapai garis akhir. Aku iri. Dan benar saja, aku terus saja berhenti beberapa kali sebelum akhirnya hampir mencapai garis akhir. Aku berhenti lagi, mengedarkan pandanganku mencari sesosok temanku, Lala.

Yup ! aku mendapatkannya juga berjalan, dia masih diputaran yang ke 3 sedangkan aku sudah mau mencapai garis akhir. Lala, berjuanglah !. aku jadi termotivasi untuk berlari lagi hingga ke garis akhir.

“ 11.48 “ , Bapak memencet mencet stopwatchnya. Akhirnya, aku lega aku tidak remedi kali ini, tidak seperti minggu kemarin, waktuku 12.21, sedikit senyuman tersungging kembali. Aku menghela nafas panjang seakan beban beratku kali ini sedah selesai dengan baik. Aku kembali teringat dengan Lala, melihat kembali ke sisi lapangan tadi.

Satu persatu orang demi orang berlalu juga mencapai garis finish. Pemandangan miris ini tak kuasa menarik kesedihanku kembali, bahkan haus-pun tak terasa lagi, semuanya hilang. Pandanganku hanya terpaku pada sesosok dirinya yang terlihat sangat kelelahan. Wajahnya menjelaskan betapa letihnya ia. Dapat kulihat sesekali ia melirik ke garis finish, melihat orang yang mulai meninggalkannya berlari sendiri, seperti biasanya. Selalu tertinggal sendirian. Hanya satu hal yang kuharapkan, aku harap ia akan terus berlari sebelum peluit sialan itu berbunyi. Namun, tampaknya harapanku tak begitu sesuai dengan keadaannya. Letih sudah terlampau menderanya. Namun dapat kulihat ia terus mencoba sekuatnya untuk tetap berlari.

Waktu sudah melewati 12 menit, peluit berbunyi, bagiku, suara peluit itu terdengar seperti terompet kematian yang menyurutkan segalanya. Semangatnya. Harapanku. Langkah kakinya melambat, ekspresinya tak dapat kubaca. Ia menundukkan wajahnya ke bumi, berjalan seakan-akan terseok-seok. Lala, walaupun kamu masih belum bisa menyelesaikannya tepat waktu, aku menghargai semangatmu, gumamku dalam hati. Dia menamatkannya di waktu 14.30.

Aku menghampirinya, bertepuk tangan. Aku melihat mukanya yang sangat memerah. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal. Tersenyum kearahnya. Tetapi aku bahkan tak tahu apakah ‘senyum’ ini dapat dikatakan sebuah senyuman. Aku duduk disebelahnya.

“ fa, tadi la liaht ada yang curang., “ dia menatap lurus ke depan.

siapa ? “ tanyaku selidik. Dia membisikkan sebuah nama di telingaku. Oh, ternyata dia. Aku seperti sudah biasa, karena dia memang sering bohong atau curang.

yang megang kertas catatan waktunya itu, kerjasama sama dia, tadi pas dia masih putaran ke-3, trus dibilangnya aja sama bapak udah 4, jadi sebenarnya bapak nyatat waktu dia putaran ketiga. Sakit hati la jadinya, eh .. “ aku menatapnya, terlihat tatapannya berubah menjadi tatapan kejengkelan dan tatapan tidak suka.

Aku menahan amarahku. Apa yang bisa kulakukan ?. melapor ke guru ?, tanpa ada bukti. Lagian biar sajalah, aku tak mau dibilang kekanak-kanakkan. Aku benci orang yang seperti itu, orang-orang yang berbuat curang. Sangat ! .

biarin aja lah mereka,, yang namanya CURANG itu, nilainya itu nilai bohongan yang ada. Nilai abal-abal . lebih berharga kan, Lala sampai ka garis akhir tu jujur, nggak curang kayak mereka itu .. “ aku berusaha menyemangatinya.

Sebuah senyuman hangat akhirnnya muncul juga. Aku tahu dia kuat.

hmm, makasih..” dia berusaha bangun, tapi aku melihatnya masih susah untk itu, maka itu aku menarik telapak tangannya

ayo!.. “ aku berjalan megambil tasku, menyandangkannya ke punggungku, begitupun Lala.

Ya Allah !, terimakasih sudah memberiku teman sebaik dia, terimakasih juga atas pelajaranmu hari ini.

Angin sore yang sejuk menepaku. Aku menghirup udara yang menyejukkan bagiku. Manggenggam erat tangannya seakan aku akan kehilangan Lala. Aku berjalan beriringan dengannya. Sejuk, damai.

1 komentar:

Ginny Laura mengatakan...

WOW Keren nie artikernya
Sambil baca artikel ini, Aku numpang promosi deh !
Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter

Poskan Komentar

 

It Girl Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea